Informasi Persyaratan mengikuti A Mild Live Wanted 2009

formulir pendaftaran yang lengkap berisikan segala persyaratan & ketentuannya, bisa juga didapat di Radio2 partner lokal.
Suddenly berada di mana? Mungkin bisa saya tanyakan dengan team AMLW nasional dimana anda bisa mendapatkan form tsb.
persyaratan & ketentuan lengkap berikut form juga bisa di download di http://www.amild.com

Well, persyaratan yang paling medasar adalah, sbb.
Setiap personil sudah berumur 18 th keatas.
Mengisi formulir pendaftaran lengkap. Melampirkan photo copy identitas diri.
Mengirimkan cd demo berisikan 3 buah lagu [dominan berbahasa Indonesia] ke DROP BOX ZONE di kota anda, atau mengirimkan ke POBOX [lihat di http://www.amild.com

3 comments April 11, 2009

A Mild Live Wanted 2009 Mulai Bergulir

A Mild Live Wanted bisa disebut sebagai salah satu gelaran acara pencarian band berbakat di Indonesia yang paling sukses terorganisir. Dihelat sejak tahun 2007, grafik jumlah pesertanya selalu meningkat tajam dari tahun ke tahun. Kesuksesan tersebut berkat keterlibatan para pelaku industri musik senior seperti: Deteksi Production, Musica Studios dan Trinity Optima Production.

Memasuki tahun 2009, seri ketiga AML Wanted sudah mulai bergulir. Jadi buat kalian para band pecinta dan pencipta musik pop (plus pengembangannya, pop-rock, pop-jazz, dst) sebaiknya segera persiapkan 3 demo lagu terbaik, dan kirimkan ke AMLW Drop Box Zone yang tersedia di kota kalian, pada waktu dan venue yang ditentukan. Oh ya, formulirnya (biasanya) bisa didapat di radio-radio partner lokal dan pastinya juga bisa diunduh di www.amild.com. Jangan lupa pula untuk memastikan umur kalian sudah berusia 18 tahun keatas untuk mengikuti ajang ini.

Add comment April 11, 2009

A Mild Live Wanted 2009, Cofee (Samarinda) dan Cartoon (Sulawesi) Maju Ke Grand Final, Bandung

Supported by: HARIAN GLOBAL

Ajang Grand Final A Mild Wanted 2009, sudah diambang mata. Dari hasil seleksi sementara yang telah digelar di beberapa kota di Indonesia, dua band di antaranya berhasil maju ke babak Grand Final, Bandung, 30 Mei mendatang. Keduanya, Cofee Band dari Samarinda, mewakili Kalimantan bagian Timur, dan Cartoon Band dari Sulawesi.

Cofee mengalahkan 23 finalis lainnya pada tahap seleksi regional Kalimantan bagian Timur, A Mild Live Wanted 2009 “We Spot Your Talent”, di Kota Balikpapan. Tampil sebagai band ke-23, Cofee berhasil mengalahkan Edelweiss dari Balikpapan (ke-2) dan The Pria dari Samarinda (ke-3).

Dewan juri nasional, terdiri dari Hary Cahyo Pramono (Capung Java Jive), Muchamad Noerwana (Noey Java Jive), Anton Wahyudi (Program Director Motion Radio) dan Bhita Asri Hermawanty (Music Director Radio), menilai Cofee lebih unggul dibanding finalis lainnya. Tahun ini, kurang lebih 200 CD telah diterima oleh dewan juri dan panitia untuk seleksi regional di dua kota, Kalimantan bagian Timur dan Samarinda.

“Kami sempat mengalami kesulitan untuk menentukan pemenang karena secara kualitas, ke 24 finalis mempunyai nilai positif. Namun, Cofee memiliki keunggulan lebih dibanding finalis lainnya. Mereka punya karakter yang kuat, matang secara jam terbang dan memenuhi kualifikasi yang dicari A Mild Live Wanted,” ujar Capung, seperti dikutip The Musedari rilis yang diterima Global, Selasa (24/3).

Cofee terdiri dari M Husni Thamrin (vokal), Arie Wardhana (gitar), M Riza Falevi (bass) dan M Misid Iqbal (drum). “Kami sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk meraih mimpi kami agar dapat eksis di industri musik Indonesia. Kami akan berusaha keras untuk mewujudkannya pada babak Grand Final di Bandung nanti,” ujar bassis Cofee, Riza.

Ini adalah pertama kali Cofee manggung di Balikpapan. “Mereka telah melaluinya dengan sangat baik meski tekanannya sangat berat. Kriteria mereka akan jadi modal utama mereka untuk tampil di babak Grand Final nanti,” kata Anton, salah satu juri nasional untuk seleksi regional Kalimantan bagian Timur.

Dengan lolosnya Cofee (21/3) kemarin, artinya, dua perwakilan dari Pulau Borneo telah ditemukan, setelah Napoleon terpilih sebagai pemenang tahap seleksi regional Kalimantan Barat, pada 15 Maret lalu.

Pada pekan yang sama, juga sedang dilakukan tahap seleksi regional Sulawesi di Kota Makassar, (22/3), mewakili Makassar, Manado, Ternate dan masih menyisakan 9 proses seleksi regional lagi. Cartoon terpilih sebagai juara pertama, diikuti Tale of Circle (ke-2) dari Manado dan The Shine dari Makassar (ke-3).

“Dari 23 finalis, kami melihat Cartoon dapat mengatasi tekanan yang mereka hadapi. Penguasaan panggung mereka cukup baik. Kami pun sepakat memberikan tiket kepada band ini untuk membuktikan diri pada tahap Grand Final di Bandung,” ujar Capung.

Cartoon terdiri dari Hery Ansyar (vokal), Imam Kharisma (keyboard), Hendra Pratama (bass), Agusalim R (gitar) dan M Ibrahim (drum). “Kami masih tidak menyangka akan terpilih sebagai perwakilan wilayah Sulawesi pada ajang bergengsi ini. Kami akan berusaha mempertahankan Kota Makassar, melanjutkan jejak Magneto, yang berhasil juara I, tahun lalu,” kata Hery.

Perjalanan program pencarian band baru berbakat ini akan terus berlangsung selama sekitar 3 bulan mendatang. Pada 29 Maret ini, tahap seleksi regional A Mild Live Wanyed 2009 akan mengunjungi Kota Papua, untuk mencari band baru berbakat dari wilayah Indonesia bagian Timur. D’Masiv dan Candil “Seuerieus” turut meramaikan tahap seleksi itu. (ts/rel)

Add comment April 11, 2009

MILD WANTED 2009 BIDIK BAND LOKAL MAKASSAR

Program A Mild Live Wanted 2009 mencari bakat band lokal asal Makassar yang berpotensi menjadi “bintang” seperti Peterpan, Nidji, Letto, D` Massive dan band-band papan atas nasional lainnya.

Menurut Area Marketing PT. HM Sampoerna Makassar, Bambang Priyoutomo di Makassar, Sabtu, program ini selalau konsisten memberikan komitmen terhadap pencarian bakat band-band berkualitas dalam negeri, utamanya Sulawesi.

Setelah mencetak band berbakat seperti d`Masiv (pemenang nasional A Mild Live Wanted 2007) dan Magneto (pemenang nasional A Mild Live Wanted 2008), A Mild kembali melanjutkan penyelenggaraan program pencarian band berbakat melalui A Mild Live Wanted 2009 berharap band-band asal Makassar dapat membuktikan ketangguhan mereka untuk bisa meengikuti pendahulunya yang telah sukses di belantika musik Indonesia.

Masih mengusung tema yang sama dengan A Mild Live Wanted 2008 yakni “We Spot Your Talent A Mild Live Wanted” tahun ini akan diselenggarakan di 38 kota yang terbagi dalam 12 wilayah regional termasuk Sulawesi.

Dalam penyelenggaraan A Mild Live Wanted 2009, A Mild masih menggandeng Musica Studio“s dan Trinity Optima Production selaku label recording.

Sedangkan untuk tahapan seleksi, proses tahun ini sama seperti tahun 2008, yakni semua demo CD dikumpulkan melalui Drop Box.

Pelaksanaan A Mild Live Wanted 2009 dimulai bulan Februari hingga Mei 2009 di mana babak grand final akan diselenggarakan pada bulan Mei 2009 untuk memperebutkan kontrak rekaman bersama perusahaan label recording yang telah melahirkan band-band/musisi papan atas, serta mendapatkan uang tunai senilai Rp50 juta, seperangkat alat band lengkap, serta satu unit mobil touring.

Tahap seleksi regional Sulawesi program pencarian bakat ini akan diselenggarakan Minggu (22/3) di ballroom Clarion Hotel jalan AP. Pettarani Makassar yang akan dimulai pada pukul 13:00 Wita hingga selesai.

http://www.news.roll.co.id

1 comment April 11, 2009

A Mild Live Wanted 2009 Cari Bakat Baru Lagi

JAKARTA, TRIBUN - A Mild Live Wanted We Spot Your Talent merupakan ajang pencarian band baru berbakat di Tanah Air yang sudah digelar A Mild sejak 2007 akan kembali digelar. Dalam dua kali penyelenggaraannya, A Mild Live Wanted telah meraih sukses dan berhasil menjaring talenta-talenta musik berbakat dari seluruh pelosok Indonesia.

Dengan menggandeng Musica Studio dan Trinity Optima Production, A Mild Live Wanted 2009 telah berhasil mewujudkan band-band baru berbakat yang bermimpi untuk ikut meramaikan industri musik di Indonesia. Dengan mengangkat tema We Spot Your Talent, A Mild telah secara aktif berpartisipasi dalam menemukan dan mengembangkan bakat-bakat baru di industri musik melalui pencarian band-band berbakat di pelosok-pelosok daerah yang belum pernah dicapai oleh pihak lain.

A Mild yang dikenal inovatif dan kreatif, tahun ini memodifikasi beberapa elemen dalam program ini. Di antaranya adalah pengadaan drop box zone, menambah kota regional seleksi menjadi 12 wilayah regional, menambah kategori pemenang pada tahap seleksi tingkat regional (juara favorit dan lucky voters untuk para music maniacs di tiap kota regional), serta adanya tahap mentoring dari grup band/musisi senior untuk ke-12 finalis yang berhak maju ke seleksi akhir.

Menanggapi adanya beberapa perubahan dari A Mild Live Wanted 2009 ini, Brand Manager A Mild, Amelia Nasution, mengatakan, A Mild ingin selalu menawarkan sesuatu yang berbeda. Oleh karena itu, pada pelaksanaan A Mild Live Wanted tahun ini, pihaknya mengubah beberapa hal yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan ajang ini.

Salah satunya adalah dengan mengadakan mentoring session pada tahap grand final dan menambah jumlah kota regional menjadi 12 wilayah. Selain itu, kami juga akan memberi apresiasi khusus kepada music maniacs yang mendukung penyelenggaraan ajang ini.

“Kami ingin agar A Mild Live Wanted tidak hanya dilihat sebagai ajang pencarian band biasa. Ajang ini adalah ajang pencarian band berbakat plus plus, di mana para finalisnya akan memperoleh berbagai manfaat yang dapat  mereka gunakan saat mereka terjun di industri musik secara nyata,” tutup Amel.

Tribun

1 comment April 11, 2009

A Mild Live Wanted 2009 – Acara Untuk Anak Band


Ajang pencarian band berbakat terbesar di Indonesia A Mild Live Wanted ini akan kembali digelar untuk ketiga kalinya. Untuk anda para musisi dan anak band berbakat dan ingin jadi beken, buruan kirim demo cd band anda, untuk informasi lebih jelasnya jga bisa melihatnya pada situs www.amild.com

A Mild Live Wanted bisa disebut sebagai salah satu gelaran acara pencarian band berbakat di Indonesia yang paling sukses terorganisir. Dihelat sejak tahun 2007, grafik jumlah pesertanya selalu meningkat tajam dari tahun ke tahun. Kesuksesan tersebut berkat keterlibatan para pelaku industri musik senior seperti: Deteksi Production, Musica Studios dan Trinity Optima Production.
A Mild yang bertujuan untuk mencari dan melahirkan band komersial terbaik sekali lagi melakukan penyisiran, tahun ini di 38 kota yang terbagi dalam 12 region dan sama seperti tahun sebelumnya, Musica Studio’s dan Trinity Optima Production kembali diberi kepercayaan oleh A Mild, untuk bisa merealisasikan impian band-band peserta A Mild Live Wanted untuk memiliki album rekaman dan dikenal di seantero Nusantara.

Para jebolan A Mild Live Wanted sendiri juga terbilang berhasil mewarnai industri musik nasional. D’Massiv dari angkatan 2007 dan Magneto angkatan 2008. Untuk D’Massiv kini telah menjadi salah satu Band Besar di Tanah Air. Magneto yang berasal dari Makassar membuktikan bahwa kesempatan menjadi pemenang memang terbuka luas bagi setiap pesertanya di seluruh penjuru nusantara. Tak peduli dari mana kota asal mereka.

Nah, untuk anda para musisi dan anak Band harus berjuang, tunjukkan kebolehan band kamu di ajang festival A Mild Live Wanted 2009 ini, karena semua berhak berjuang, dan harus tetap berjuang demi mencapai impiannya. Tidak ada kata menyerah, dan begitu banyak jalan yang perlu dicoba untuk mencapai tujuan.

http://waroengcell.blogspot.com

1 comment April 11, 2009

“A Mild Live Wanted 2009”

Jakarta – Spesifikasi musik pop begitu banyak, mulai dari kriteria penuh elemen ritmik hingga melodi, lagu yang dibatasi durasi sepanjang lima menit, hingga kaitannya yang dikunci oleh struktur mainstream dan aturan usang.
Di Indonesia, keberadaan bisnis pop lebih dikuasai grup band. Dimulai pula dengan Koes Bersaudara—berubah menjadi Koes Plus di tahun 1970-an karena pemain drum Nomo Koeswoyo berpisah dan memilih jalannya sendiri.
Sampai kini, negeri ini tetap “dikuasai” oleh anak band, termasuk Nidji dan D’Massiv. Nama yang disebut terakhir adalah band yang lahir dari ajang “A Mild Live Wanted”, sebuah ajang kompetisi pencarian band baru berbakat di Tanah Air. “Kami (tahun ini) terus mencari grup band potensi baru dengan beragam genre pop,” ujar Hary Cahyo Purnomo sebagai ketua juri nasional “A Mild Live Wanted 2009”, Senin (23/2) lalu.
Orang ini lebih akrab dikenal dengan nama Capung, sebagai personel andalan band pop legendaris Java Jive. Ia bersama Muchamad Noerwana (Noey “Java Jive”) telah membantu mengorbitkan Peterpan, Letto, Nidji, dan otomatis juga D’Masiv karena Capung dan Noey telah “memberesi” album perdana bertajuk Perubahan dari si “anak pertama” “A Mild Live Wanted”.

“Memberesi”
Kesan “memberesi” ini dipergunjingkan orang, terutama untuk kegiatan “A Mild Live Wanted” lantaran nama band pemenangnya tak selalu sukses di industri rekaman melainkan bisa saja yang nomor urut setelahnya yang berhasil mencetak lagu dan album.
“Tugas kami adalah menciptakan band yang dapat berjaya di pasar. Jadi bukan sekadar menghasilkan para juara. Komersialitas adalah bobot paling besar yang jadi tujuan, tetapi belum tentu kami mengikuti tren pop yang sedang terjadi di dunia,” jelas Yonathan Nugroho dari Trinity Optima Production, selaku pimpinan perusahaan rekaman yang bersama-sama Musica Studio’s merekrut para pemenang teratas “A Mild Live Wanted”.
Tetapi, lanjut Yonathan, kami perlu terus mengadaptasi perkembangan musik pop negeri ini. Untuk itu, personal di tim juri pun harus senantiasa diperbarui. Susunan tim juri “A Mild Live Wanted 2009” selain Capung sebagai ketua, juga didapati nama Noey, Anton Wahyudi, Krisna J Sadrach, dan Yanto Sutardji selaku anggota. Para juri itu datang dari kalangan pemusik sekaligus produser rekaman, direktur musik di stasiun radio, dan para staf ahli di label rekaman.
Selain itu, penyelenggaraan “A Mild Live Wanted 2009” melakukan perubahan untuk memudahkan band peserta dalam pengiriman demo compact disc (CD) melalui pengadaan drop box zone di kota-kota tempat penyelenggaraan.
Kota regional seleksi juga dilengkapi menjadi 12 wilayah, yakni Kalimantan I (berpusat: di Pontianak), Kalimantan II (Balikpapan), Indonesia Bagian Timur I (Makassar), Indonesia Bagian Timur II (Papua), Bali dan Nusa Tenggara (Denpasar), Sumatera bagian Utara (Medan), Sumatera bagian Tengah (Pekanbaru), Sumatera bagian Selatan (Palembang), Jabodetabek (Jakarta), Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Yogyakarta), dan Jawa Timur (Surabaya).
Awal dan akhir “A Mild Live Wanted 2009” dimulai dari penyeleksian demo CD di Banjarmasin/Palangkaraya/Pontianak (Kalimantan I) sejak 2 Maret 2009, sampai tahap puncak final akbar pada 30 Mei 2009 (kemungkinan di Jakarta).
Kategori pemenang di tahap seleksi tingkat regional ditambah dengan Juara Favorit dan Lucky Voters.

Sinar Harapan

Add comment April 11, 2009

Lilis Surjani

(22 Agustus 1948 – 7 Oktober 2007) seorang penyanyi senior Indonesia terkenal dengan lagunya yang berjudul Tiga Malam, lagu yang populer pada zaman konfrontasi Indonesia Malaysia dan Gang Kelinci (Ciptaan Titiek Puspa). Salah satu ciptaannya, Si Baju Loreng yang bertemakan kekaguman seorang gadis terhadap seorang anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), bahkan menjadi lagu yang menjadi pengobar heroisme tersendiri di pertengahan 1960-an. Lilis yang bertubuh mungil dan rambut model jambul ini juga seorang drummer dan pernah membintangi sederet film layar lebar pada kurun waktu 1964-1974. Antara 1963-1966, saat terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia, Lilis tercatat banyak menulis sekaligus menyanyikan lagu-lagu bertema patriotik dan pemicu semangat bernegara, diantaranya Pergi Berjoeang, Tiga Malam, Kau Pembela Nusa Bangsa, Mohon Diri, Baju Loreng, Hurryku Sayang, dan Berita.

Pada tahun 1968, Lilis membentuk sebuah band wanita yang diberi nama The Females bersama Rita Rachman (Keyboard) dan Rose Sumanti. Ia bermain drum di kelompok ini. Saat itu, kancah musik negeri ini diwarnai maraknya band-band wanita, seperti Dara Puspita, The Singers, The Reynettes, The Beach Girls, dan banyak lagi. Ketika ketenarannya memudar di Indonesia pada akhir 70-an, justru Lilis tetap dikenang di Malaysia hingga saat sekarang ini. Siti Nurhaliza misalnya, menyatakan kekaguman terhadap Lilis dalam salah satu albumnya, Siti Nurhaliza menyanyikan hit besar Lilis berjudul Tiga Malam. Ia juga mempopulerkan lagu daerah yang berjudul Gendjer-gendjer yang diciptakan oleh M. Arief, salah seorang seniman dari Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu ini dikaitkan dengan Gerakan 30 September PKI (Gestapo/G30S PKI) sehingga dilarang dimainkan ataupun dinyanyikan setelah tahun 1965. Lilis Surjani meninggal pada hari Minggu tanggal 7 Oktober 2007 sekitar jam 21.30 WIB dalam usia 59 tahun, meninggalkan tiga anak serta delapan cucu. Ia wafat setelah berjuang selama 4 tahun melawan penyakit kanker rahim yang dideritanya.

Sejarah lagu Gendjer-gendjer
Lagu Gendjer-gendjer sebenarnya menceritakan tentang kehidupan rakyat (terutama petani) yang hidupnya susah dan miskin sehingga mereka harus makan dengan tanaman air yaitu genjer (Limnocharis Flava) yang banyak ditemukan di pesawahan di daerah tersebut. Hanya saja lyric dari lagu ini kemudian diplesetkan oleh Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang merupakan salah satu organisasi dibawah naungan (anak partai) PKI pada jaman orde lama. Lagu ini dinyanyikan oleh Gerwani pada saat pemberontak PKI melakukan penyiksaan dan pembunuhan secara biadab terhadap 7 orang Jenderal (Pahlawan Revolusi) yang berhasil diculiknya dan kemudian para Jenderal tersebut dikubur dalam 1 sumur yang bernama Lubang Buaya di kawasan Jakarta Timur. Hingga akhirnya lagu ini dibredel (dilarang beredar/dicekal) dimasa pemerintahan Orde Baru (Pemerintahan Presiden Soeharto). Beberapa musisi Banyuwangi ingin merilis ulang lagu ini tapi dilarang oleh Kodim setempat. Berikut lyric asli dari lagu tersebut:

Lilis Surjani – Gendjer-gendjer (M. Arief, 1962)

Gendjer-gendjer neng kedokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng kedokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk didol ning pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi pada didasar
Dijejer-jejer diuntingi pada didasar
Emake djebeng podo tuku nggawa welasan
Gendjer-gendjer saiki wis arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel petjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

yang artinya:
Genjer-genjer di selokan berceceran
Ibu si anak datang mencabut genjer
Dapat sekeranjang pulang tanpa tolah-toleh
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Dijajar, diikat, dibeberkan di lantai
Ibu si anak beli membawa belasan
Genjer-genjer sekarang sudah akan diolah

Genjer-genjer dimasukkan kedalam panci air panas
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal pecel di tempat tidur
Genjer-genjer dimakan dengan nasi

1 comment Februari 11, 2009

bob Marley lyrics

BOB MARLEY lyrics – “Redemption Song”

Old pirates, yes, they rob I;
Sold I to the merchant ships,
Minutes after they took I
From the bottomless pit.
But my hand was made strong
By the ‘and of the Almighty.
We forward in this generation
Triumphantly.
Won’t you help to sing
These songs of freedom? -
‘Cause all I ever have:
Redemption songs;
Redemption songs.

Emancipate yourselves from mental slavery;
None but ourselves can free our minds.
Have no fear for atomic energy,
‘Cause none of them can stop the time.
How long shall they kill our prophets,
While we stand aside and look? Ooh!
Some say it’s just a part of it:
We’ve got to fulfil de book.

Won’t you help to sing
These songs of freedom? -
‘Cause all I ever have:
Redemption songs;
Redemption songs;
Redemption songs.

BOB MARLEY lyrics – “Waiting In Vain”

I don’t wanna wait in vain for your love;
I don’t wanna wait in vain for your love.
From the very first time I rest my eyes on you, girl,
My heart says follow t’rough.
But I know, now, that I’m way down on your line,
But the waitin’ feel is fine:
So don’t treat me like a puppet on a string,
‘Cause I know I have to do my thing.
Don’t talk to me as if you think I’m dumb;
I wanna know when you’re gonna come – soon.
I don’t wanna wait in vain for your love;
I don’t wanna wait in vain for your love;
I don’t wanna wait in vain for your love,
‘Cause if summer is here,
I’m still waiting there;
Winter is here,
And I’m still waiting there.

Like I said:
It’s been three years since I’m knockin’ on your door,
And I still can knock some more:
Ooh girl, ooh girl, is it feasible?
I wanna know now, for I to knock some more.
Ya see, in life I know there’s lots of grief,
But your love is my relief:
Tears in my eyes burn – tears in my eyes burn
While I’m waiting – while I’m waiting for my turn,
See!

BOB MARLEY lyrics – “Three Little Birds”

“Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.
Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right!”

Rise up this mornin’,
Smiled with the risin’ sun,
Three little birds
Pitch by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Sayin’, (”This is my message to you-ou-ou:”)

Singin’: “Don’t worry ’bout a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.”
Singin’: “Don’t worry (don’t worry) ’bout a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right!”

Rise up this mornin’,
Smiled with the risin’ sun,
Three little birds
Pitch by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Sayin’, “This is my message to you-ou-ou:”

Singin’: “Don’t worry about a thing, worry about a thing, oh!
Every little thing gonna be all right. Don’t worry!”
Singin’: “Don’t worry about a thing” – I won’t worry!
“‘Cause every little thing gonna be all right.”

BOB MARLEY lyrics – “No Woman No Cry”

No, woman, no cry;
No, woman, no cry;
No, woman, no cry;
No, woman, no cry.

‘Cause – ’cause – ’cause I remember when a we used to sit
In a government yard in Trenchtown,
Oba – obaserving the ‘ypocrites – yeah! -
Mingle with the good people we meet, yeah!
Good friends we have, oh, good friends we have lost
Along the way, yeah!
In this great future, you can’t forget your past;
So dry your tears, I seh. Yeah!

No, woman, no cry;
No, woman, no cry. Eh, yeah!
A little darlin’, don’t shed no tears:
No, woman, no cry. Eh!

Said – said – said I remember when we used to sit
In the government yard in Trenchtown, yeah!
And then Georgie would make the fire lights,
I seh, logwood burnin’ through the nights, yeah!
Then we would cook cornmeal porridge, say,
Of which I’ll share with you, yeah!
My feet is my only carriage
And so I’ve got to push on through.
Oh, while I’m gone,
Everything’s gonna be all right!
Everything’s gonna be all right!
Everything’s gonna be all right, yeah!
Everything’s gonna be all right!
Everything’s gonna be all right-a!
Everything’s gonna be all right!
Everything’s gonna be all right, yeah!
Everything’s gonna be all right!

So no, woman, no cry;
No, woman, no cry.
I seh, O little – O little darlin’, don’t shed no tears;
No, woman, no cry, eh.

BOB MARLEY lyrics – “I Shot The Sheriff”
(I shot the sheriff
But I didn’t shoot no deputy, oh no! Oh!
I shot the sheriff
But I didn’t shoot no deputy, ooh, ooh, oo-ooh.)
Yeah! All around in my home town,
They’re tryin’ to track me down;
They say they want to bring me in guilty
For the killing of a deputy,
For the life of a deputy.
But I say:

Reff*
Oh, now, now. Oh!
(I shot the sheriff.) – the sheriff.
(But I swear it was in selfdefence.)
Oh, no! (Ooh, ooh, oo-oh) Yeah!
I say: I shot the sheriff – Oh, Lord! -
(And they say it is a capital offence.)
Yeah! (Ooh, ooh, oo-oh) Yeah!

Sheriff John Brown always hated me,
For what, I don’t know:
Every time I plant a seed,
He said kill it before it grow -
He said kill them before they grow.
And so:

Reff**
Read it in the news:
(I shot the sheriff.) Oh, Lord!
(But I swear it was in self-defence.)
Where was the deputy? (Oo-oo-oh)
I say: I shot the sheriff,
But I swear it was in selfdefence. (Oo-oh) Yeah!

Freedom came my way one day
And I started out of town, yeah!
All of a sudden I saw sheriff John Brown
Aiming to shoot me down,
So I shot – I shot – I shot him down and I say:
If I am guilty I will pay.

Back to Reff*

Reflexes had got the better of me
And what is to be must be:
Every day the bucket a-go a well,
One day the bottom a-go drop out,
One day the bottom a-go drop out.

BOB MARLEY lyrics – “Africa Unite”

Ziya-po ya-ya, pa-pa-ya-pa!
Ti-da-lee, na po-po pu-du-loo!
Ste-na-peh na-na po po-ro po!
Africa unite:
‘Cause we’re moving right out of Babylon,
And we’re going to our Father’s land, yea-ea.

How good and how pleasant it would be before God and man, yea-eah! -
To see the unification of all Africans, yeah! -
As it’s been said a’ready, let it be done, yeah!
We are the children of the Rastaman;
We are the children of the Iyaman.

So-o, Africa unite:
‘Cause the children (Africa unite) wanna come home.
Africa unite:
‘Cause we’re moving right out of Babylon, yea,
And we’re grooving to our Father’s land, yea-ea.

How good and how pleasant it would be before God and man
To see the unification of all Rastaman, yeah.
As it’s been said a’ready, let it be done!
I tell you who we are under the sun:
We are the children of the Rastaman;
We are the children of the Iyaman.

So-o: Africa unite,
Afri – Africa unite, yeah!
Unite for the benefit (Africa unite) for the benefit of your people!
Unite for it’s later (Africa unite) than you think!
Unite for the benefit (Africa unite) of my children!
Unite for it’s later (Africa uniting) than you think!
Africa awaits (Africa unite) its creators!
Africa awaiting (Africa uniting) its Creator!
Africa, you’re my (Africa unite) forefather cornerstone!
Unite for the Africans (Africa uniting) abroad
Unite for the Africans (Africa unite) a yard!

Add comment November 15, 2008

God Bless Tak Lagi Muda

g

Achmad Albar menatap panggung. Wajahnya tampak tegang, matanya lurus menatap rekan-rekannya yang sudah lebih dulu beroleh riuh tepukan di bawah terang lampu sorot. Tangan kirinya bertumpu di pinggang, sementara tangan satunya menyandar ke tembok.

Sebelumnya, ia tampak melakukan pemanasan, bersenam, melemaskan kepala, pinggang, dan kakinya. Sebentar melompat-lompat sambil menunggu rekan-rekannya selesai menala nada pada alat musiknya. Grogi? “Ya, selalu ada rasa demam panggung ketika kembali naik panggung,” kata Iyek, panggilan akrabnya.

Saat asap es kering mengepul tebal, Iyek pun beranjak naik ke panggung. Tepuk sorak kembali membahana. Dia mengangkat kedua tangannya, menyapa ratusan penonton di kantor majalah Rolling Stone Indonesia, Kamis malam lalu.

Inilah penampilan khusus God Bless. Para audiens memadat di depan panggung, terdiri atas musisi berbagai angkatan, selebritas, wartawan, bahkan pekerja tayangan infotainment. Sebelum God Bless tampil, panggung silih berganti diisi penampilan musisi, seperti Fariz R.M., Indra Lesmana, dan Glenn Fredly.

Hangat. Atraktif. Itulah yang tergambar dalam penampilan mereka. Iyek, misalnya, seperti biasa, tetap melompat-lompat di panggung. Mereka membawakan sejumlah lagu. Tentu saja lagu-lagu itu mengingatkan penonton pada perjalanan God Bless.

Lagu Huma di Atas Bukit, misalnya. Ini adalah lagu lama, diciptakan pada 1970-an. Lagu ini masuk album mereka yang bertajuk God Bless pada 1975. Boleh jadi, lagu ini, termasuk lagu-lagu lainnya, mengantarkan kenangan tersendiri bagi penggemarnya.

Mereka tidak ada duanya. Tidak tergantikan. Mereka tetap tampil prima. Padahal mereka sudah tidak muda. Achmad Albar sudah 62 tahun. Ian Antono, sang gitaris, sudah 58 tahun. Begitu pula Donny Fattah (bas), Yaya (drum), dan Abadi Soesman (keyboard).

Dengan semangat yang tetap menyala itulah, tahun depan, mereka akan merilis album baru. Ini rencana lama yang belum terwujud. “God Bless mau bikin album lagi setelah sekian lama absen, kangen juga,” ujar Ian beberapa bulan lalu kepada Tempo.

Kini rencana itu makin menguat. God Bless tengah menggodok materi album itu. “Hidup kami memang musik. Kalau bukan musik, apa lagi? Kita nggak bisa kerja di kantor,” kata Ian di sela-sela konser Kamis malam itu.

Rencananya, ada 12 lagu mengisi album tersebut. Semua baru. Sebelumnya, sempat ada pemikiran memasukkan dua lagu lama dalam versi artistik, tapi tidak jadi. Karya terbaru itu juga untuk menghangatkan semangat rock sekaligus membawa nuansa baru. “Ini kesempatan terakhir kami membuktikan,” Ian menambahkan.

Kata dia, album baru condong ke Cermin, cenderung progresif, dengan satu-dua lagu berdurasi panjang. “Saya yakin masih banyak peminat progresif. Yaya (Yaya Moektio, drum) sudah adaptasi selama beberapa tahun ini. Beat dia lebih kaya,” kata Ian.

Malam itu Yaya menunjukkan sedikit beat progresifnya. Misalnya saat menemani melodi Ian pada lagu Rumah Kita dan tendangan pedal-ganda di sepanjang lagu Kehidupan. Selain itu, kata Ian, mereka juga memasukkan unsur etnik di keyboard.

Sejumlah harapan pun disandarkan. “Di album terbaru, saya berharap mereka tetap jadi God Bless. Ini saya nungguin,” kata Fariz. “Semoga ada warna baru kembali di album terbaru,” tutur Ebiet G. Ade. Sedangkan Ari Lasso berkata: “Mudah-mudahan bisa mewakili dan membayar kerinduan saya selama ini kepada God Bless.”

Malam itu God Bless tetap menunjukkan diri sebagai God Bless yang dulu. Iyek, misalnya, meski tak bisa menutupi kelelahannya (mereka tiba di Rolling Stone sejak hari terang dan baru manggung sekitar pukul 23.00), tetap berusaha tampil prima. Beberapa kali ia terpeleset di nada-nada tinggi dengan kekuatan suara besar.

Setelah beberapa lagu, Iyek pamit kepada penonton. Audiens tak rela rupanya. Para personel sudah hendak beranjak. Mereka tampak berunding di panggung. Ian Antono menjawab dengan petikan gitar. Huma di Atas Bukit pun dilantunkan. Lalu Panggung Sandiwara.

Tak lengkaplah God Bless tanpa Semut Hitam, yang diteriakkan sejumlah penonton. God Bless mengabulkannya sebagai lagu terakhir. Malam itu semua kembali ber-rock ‘n’ roll. Penonton ikut bergoyang, bahkan ada yang berjingkrak-jingkrak.


Semut hitam
Semut hitam…

www.tempointeraktif.com

Add comment November 15, 2008

Fundamentalisme Mengancam Kemajemukan

Merayakan 40 tahun Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta menggelar pidato kebudayaan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Senin malam pukul 20.00. Pemimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia I Gusti Agung Ayu Ratih membawakan pidato bertajuk “Kita, Sejarah, Kebhinekaan”.

Gung Ayu, sapaan dia, 42 tahun, pada 1994 meraih Master of Arts di studi bidang sejarah dan sastra perbandingan pada Program Studi Asia Tenggara, University of
Wisconsin-Madison. Ia kini aktif meneliti sejarah kebudayaan dan gerakan perempuan.

Pidato Gung Ayu akan menegaskan kembali pluralisme Indonesia, yang lahir dari kesepakatan beragam kekuatan. Maka setiap usaha untuk penyeragaman justru mengingkari alasan eksistensi negara-bangsa. Gung Ayu memaparkan dua kekuatan yang mengancam pluralisme Indonesia: fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Kedua kekuatan ini, meski tampak berseberangan, namun saling terkait.

Fundamentalisme pasar, melalui paham neoliberalisme, menimbulkan kecemasan dan ketakpastian. Dalam suasana itu, kaum fasis berjubah agama menawarkan “kepastian”: janji penyelamatan, surga, sedikit
bantuan ekonomi, dan status sosial yang lebih mulia. Fenomena serupa terjadi di AS, yang mendorong naiknya Bush dan gerakan Evangelism.

Di tengah gelombang fundamentalisme pasar dan agama, perempuan terhimpit dan terkorbankan. Pasar bebas menjadikan perempuan sebagai komoditas Tenaga Kerja Wanita, sementara fundamentalis agama menuding perempuan sebagai muasal kebejatan dan kekacauan dewasa ini.

Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya juga akan memberi pengantar. Menurutnya, pluralisme memaknai manusia sebagai mahkluk multidimensi, tak hanya konsumen maupun pemberi suara dalam pemilihan umum. “Kita ingin menghayati kehidupan yang menentang penyeragaman oleh modal, kekuasan, fundamentalisme agama dan apa saja yang tidak berdaya toleransi,” kata Marco.

Add comment November 15, 2008

Previous Posts


Spam Blocked

TANGGALAN

Februari 2010
S S R K J S M
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Halaman

Kategori

Arsip

Top Posts

Blog Stats

Tulisan Terkait……

Aksi Artikel bali bedah buku berita bukti charity concert concert music essay info informasi laguku launching Lirik lirik lagu [lyrics] lirik[lyrics] METAL BALI michael Franti Music oppie pagelaran populer rock Saosin sastra Sejarah.musik seputar A mild live wanted 2009 show Sketsa sosial strange days terbaru the doors

Top Clicks

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

sidanang weah di 1. BAND ROCK Indonesia, TAHUN…
Ronald di 2.BAND ROCK Indonesia, TAHUN…
rendy di A Mild Live Wanted: “Giv…
eroelmorison di Jim Morisson N The Doors
esron valentinus tar… di LARANTUKA

Blogroll

Link

Meta

Feed